Kamis, 15 Maret 2012

PERTIKAIAN ( MERTUA, MENANTU & CUCU )


Suatu hari, baru pulang sekolah dia ke rumah kakek dan nenek minta makan, karena orang tuanya tidak ada di rumah, mereka pergi kerja ke sawah dan biasanya mereka pulang jam 6 sore. Waktu itu dia baru umur 8 th kelas 3 SD ( Sekolah Dasar). Sampai di rumah nenek “ Assalamualikum, nenek.....kakek....ini saya dateng”, kemudian kakek menyambut kedatangan  “ eh kamu, ngapain kesini?”,dengan raut wajah tidak suka. Dengan wajah lapar dan lemas “ saya baru pulang sekolah kek,belum makan dan kesini mau minta makan di sini”. “di sini tidak ada apa-apa,tidak ada makanan,pulang sana”!!. “Tapi kek saya lapar,nenek mana??”. “nenek kamu tidak ada,emangnya orang tuma kamu kemana??”, “orang tua saya ke sawah”. Kakek tetap tidak kasi saya akan, dan akhirnya saya pulang dengan keadaan masih lapar.
Hari sudah sore ibu dan bapak sudah pulang dari sawah. Malam hari sebelum tidur, saya curhat sama ibu tentang sikap kakek kepada cucunya. Setelah saya ceritakan semuanya, tiba-tiba ibu menangis dan memeluk saya dengan erat. Pelan-pelan ibu pun mulai cerita sejak ibu dan bapak menikah.
Sejak ibu menikah sama bapak, orangtua bapak tidak setuju pernikahan mereka. Orangtua bapak maunya bapak menikah denagn orang yang di sukainya, tapi bapak tidak tidak bisa menikah tanpa cinta dan akhirnya bapak menikahi ibu. Hari demi hari waktu sudah banyak terlewati dan akhirnya ibu hamil dan melahirkan saya anak pertama. Meskipun ibu baru melahirkan kakek dan nenek tetap memaksa ibu kerja, menumbuk padi buat makan, saat itu rasanya ibu tidak kuat melakukan pekerjaan seperti itu, tapi apa mau di kata namun dengan kesabaran hati ibu tetap mengerjakan apa yang harus di kerjakan.
Suatu hari, saat saya masih bayi waktu itu saya agi tidur di teras rumah kakek dan nenek, tiba-tiba kakek dan nenek keluar dari rumah “ eh kamu, ngapain kamu taruh anakmu di sini, taruh di sana aja dket tempat mu kerja, di sini bau”!!, dengan raut wajah marah dan melempar-lempar kain ku saat masih bayi. Mau tidak mau ibu harus memindahkan aku dan barang-barng ke tempat lain. Saat itu bapak saya tidak ada di rumah, karena setiap hari bapak kerja  di sawah. Meskipun ibu dan bapak bekerja keras, namu mereka tidak dapat menikmati hasil kelelahan saat panen, karen kakek dan nenek tidak memberi bagian sedikitpun, cukup makan setiap hari itupun harus menahan rasa malu karena di caci maki oleh mertua karena punya menantu yang tidak di sukai.
Lama kemudian, bapak dan ibu di usir dari rumah karena selama tinggal bersama mertua merasa tidak nyaman dan selalu di salahin dan akhirnya pergi dari rumah. Waktu itu saya baru berumur 6 bulan tinggal di pondok kecil, sawah yang begitu sepi, cari buat makan sehari-hari susah karena sawah, kebun, ladang tidak pnya tempat tinggalpun karena tempat itu tidak ada yang nempatin. Jadi makanan  saya setiap hari syukur ada bayem, karena beras tidak punya, kalau dapat buruh harian baru dapat uang buat beli beras. Saat itu saya dan orangtua hidup sengsara, jauh dari keluarga tidak ada yang suka dan tidak ada yang kasian. Meskipun begitu tetap semangat berusaha untuk menjalani hidup dan merawat saya hingga besar, meskipun keseringan makan bayem ganti nasi.
Beberapa tahun kemudian orang tua saya di suruh pulang karena ibu hamil yang ke dua kalinya. Saat ibu melahirkan yang ke dua kali, saya berusaha bisa merawat adik bayi, karena nenek tidak mau membantu merawat adik. Suatu hari saat adik saya menangis dan ibu saat itu lagi sakit, saya pergi memanggil nenek bantuin ngurus adik, samapi di rumah nenek “ nek tolong ibu sakit adik saya tidak yang ngurusin”!!, “eh kamu kan ad, kenapa tidak kamu aja yang merawat adik mu, makanya belajar kalo tidak belajar ngurus adiknya kapan bisa”???, dengan raut wajah marah. Saya langsung balek dan menundukkan kepala tetap bersabar menerima kenyataan. Sejak itulah saya bisa merawat bayi, masak, nyuci sendiri, bersih-bersih rumah dll.
18 tahun kemudian saat kelas 3 SMA, kakek sakit parah. selama sakit, kakek tetap saya jenguk bahkan saya sering nginap di rumahnya. Kakek sakit selama 3 bulan. Selama dia sakit sempat sembuh beberapa hari saja. Sifat kakek saat sakit beda saat sehatpun beda. Kalau kakek lagi sakit parah sampai tidak menyadarkan diri, entah tau kenapa yang dia cari pasti saya dan orangtua ku. Beberapa hari dia sempat sehat, tapi sikapnya berubah lagi jadi kasar. Suatu hari saat kakek duduk di teras deket pintu, saya datang “ kakek lagi ngapain, sudah sehat kek??”, “mau ngapain kamu kesini, kamu kesini mau makanan saya ya?, di sini tidak ada akanan pulang sana”!!, wajah kakek seram dan galak. Saya langsung pulang dan tetap bersabar dan berdoa semoga kakek sadar dan tuhan mengampuni dosa-dosanya.
3 hari kemudia kakek tiba-tiba sakit lagi, dan saat itu sakitnya semakin parah dan semakin tidak sadarkan diri, tapi meskipun kakek bersikap tidak suka sama keluargaku, namun kami tetap menerima dan merawat kakek. Pernah saya meninggalkan kakek ke rumah nenek dari ibu, seharian saya tidak pulang dan berencana nginep semalam saja. Malam harinya, tiba-tiba paman datang jemput ke rumah nenek, dan mereka bilang”nak kamu cepat pulang kakek sekarat dia memanggil nama kamu terus seharian kamu pergi kakekmu tidak mau makan, dia menunggu kamu pulang, semua keluarga sudah kumpul”,saya langsung kaget dan panik” ya allah kakek, ayo paman kita pulang sekarang juga”!!. Sesampai di rumah kakek keluarga banyak yang ngumpul, anak kakek ku 12 orang dan waktu itu semuanya sudah ngumpul, anak, cucu, buyut,menantu, saudaranya kakek semuanya sudah ngumpul. Saat itu semua keluarga mengira kakek meninggal. Tapi setelah saya sampai di rumah, saya menawarkan kakek makan, minum, minum teh, apa saja yang dia mau, dan akhirnya kakek langsung mau makan. Semua keluarga heran karena sebelumnya banyak anak-anaknya menawarkan makan tapi tidak mau, kakek Cuma mau makan kalo aku yang suapin. Kakek sudah mendingan keluarga pun balek kerumah masing-masing”pak saya pulang dulu ya bapak cepat sembuh dan kamu nur jaga kakek mu sampai sehat”.
Beberapa hari kemudian kakek mau tidur deket saya, keadaan kakek juga semakin parah, saya lihat kakek ada yang tidak beres, seperti kesakitan, lemas, tidak bertenaga, saat itu saya bilang “ kakek sakit apa?, tidak apa-apa, kakek cuma lemas aja mau tidur, jawab kakek, kalau begitu aku panggil keluarga yang lain ya, tidak usah kamu di sini saja temani kakek,kakek tidak mau merepotkan yang lain cukup kamu saja temani kakek, nanti kalu kakek sudah tidak ada baru kamu ajak semua keluarga kesini, ujar kakek kepada saya”, mendengar kakek ngomong seperti itu saya nangis dan sudah ada pirasat kalu kakek bakaln meninggal. Saat itu nenek tidak begitu memperhatikan saya sama kakek. Diam-diam saya panggil orangtua saya kerumah kakek,”ibu bapak sekarang kerumah kakek ya, soalnya kakek sepertinya semakin sakit, ya ayo kita kesana, jawab ibu dan bapak”.
Malam itu nenek, kakek, ibu, bapak, dan saya tidur di ruma kakek. Kita semua tidur, malam itu hujan besar, mati lampu tidak adak cahaya sedikitpun di dalam rumah, cuma ada lampu korek. Jam 11 malam saya bangun, karena hujan besar, angin, gelap dan langsung mencari korek melihat keadaan kakek begitu melihat kakek ternyata kakek sudah sekarat saat di sandar oleh istrinya, “kakek, ya allah kakek kenapa?, kakek bilang “ cucuku” sambil mengusap pipi saya kemudian saya pegang dadanya,tenggorokannya ternyata kakek mau menghembuskan nafas terakhir, saya panik bangunkan ibu dan bapak. Belum lama kemudian saat saya, ibu, bapak dan nenek ngumpul, akhirnya kakek menghembuskan nafas terakhirnya di tanagn kami ber4. Nenek, ibu, bapak, langsung nangis, kecuali saya tidak meneteskan air mata, akrena saya sudah iklhlas, saya berharap kakek bisa pergi dengan tenang. Setelah kakek tidak ada, saya keluar dari rumah bawa lampu senter, hujan-hujan saya membangunkan keluarga yang lain mengajak kerumah kakek. Dan akhirnya banyak keluarga yang berkumpul dan memberitau keluarga yang lainnya, malam-malam suara tangisan pun ramai di rumah kakek.
Saat kakek di mandikan untuk yang terakhir kalinya saya mengingat semua apa yang kakek lakukan selama hidupnya, dan saya bersoa semoga kakek di terima di sisiNya. Dengan kuasa Tuhan dan keadilanNya, kakek meninggal di pelukan cucu, menantu, dan anak yang paling di benci selama hidupny. Sesungguhnya Allah maha adil dan maha segalanya. Kakek di jemput saat orang-orang yang dia benci selama hidupnya yaitu cucu, anak, dan menantunya( orangtuaku). Semoga allah mengampuni dosa-dosa kakek dan di terima di sisiNya. AMIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar